Langsung ke konten utama

Review Sleeping Bag Eiger Esplanade

Review Sleeping Bag Eiger Esplanade

Eiger Esplanade (kode seri: IKT02) ini merupakan sleeping bag ke-lima yang pernah saya beli dan masih saya pakai sampai sekarang. Saya sering ganti sleeping bag karena belum ada yang pas, baik insulasi maupun bobotnya. Kadang ada yang hangat tapi berat. Bikin males kalau bawa item yang berat-berat. Ada pula yang tipis dan ringan tapi insulasinya kurang bagus. Memilih sleeping bag memang gampang-gampang susah. Tenang, gak sesulit milih sepatu atau tas gunung kok. Apalagi milih jodoh. Ehh...


Info pembelian
Sleeping bag ini saya minati sejak lama. Kira-kira sejak pertengahan 2013. Awalnya ada temen yang pakai ini dan nyaranin ke saya. Awal tahun 2014, saya lihat di beberapa Eiger Store di Surabaya stoknya banyak yang kosong. Tinggal di satu store aja yang masih ada. Harganya Rp650.000. Padahal dulu teman saya beli tahun 2012 masih Rp550.000. Karena waktu itu saya masih punya sleeping bag, saya gak ngebet kepengin beli. Selang beberapa bulan kemudian harganya sudah naik lagi jadi Rp725.000. Buset dah! kalau harganya segitu mending saya beli yang merk luar sekalian. Gak usah kaget, Eiger ini memang semena-mena kalau naikin harga. Lama saya cari second-nya barangkali ada yang jual online akhirnya muncul juga di OLX. Saya lupa dapat harga berapa. Sekitar Rp300.000 - Rp350.000 kalau gak salah. Barangnya dikirim dari Bandung. Sempat was-was karena OLX bukan untuk kirim-mengirim, maklum tanpa perantara. Beda ama Tokopedia, Bukalapak, atau Lazada. Saya biasa beli di OLX untuk COD-an area Surabaya.


Alasan beli sleeping bag ini
Saya lagi pengin beralih ke ultralight. Bertahap sih. Dimulai dari sepatu, tenda, sleeping bag, matras, dan terakhir tas. Faktor lainnya karena saya lihat teman saya itu masih nyaman pakai sleeping bag ini bahkan sampai sekarang pun belum ganti. Tumben, padahal tuh bocah sering gonta-ganti item. Karena jam terbang dia lebih tinggi dan dompetnya lebih tebal, saya pikir pasti nyaman banget sleeping bag ini.


Riwayat pemakaian
Pertama kali pakai sleeping bag ini di Gunung Butak bulan Maret 2015. Selanjutnya yang saya ingat ke Merbabu, Lemongan, Arjuno, dan Bromo. Entah berapa kali saya lupa. Yang jelas sampai sekarang masih setia pakai sleeping bag ini.


Spesifikasi:
Warna: Biru tua kombinasi hitam
Ukuran: 230 x 80 x 55 cm
Shell: 44D 260T Nylon Tactel Ripstop
Lining: 40D 278T Soft Nylon
Insulasi: Polydown Polyester Fiber 50 gm/m2 x 1
Konstruksi jahitan: Single layer with horizontal stitch 8" W
Risleting: Double dua arah, auto-lock
Temperature rating: 18°C sampai 8°C

Review Sleeping Bag Eiger Esplanade

Sleeping bag ini merupakan seri high-end keluaran Eiger. Untuk yang seri Mummy regular pernah saya review disini. Dari harganya saja mirip bikinan luar. Saya akan mikir dua kali jika mau beli baru dengan harga segitu. Nah karena ini saya dapat second dengan harga separuh dari harga barunya, ya saya bungkus aja. Meskipun second, kondisinya masih bagus. Fill-nya masih mengembang. Minus sedikit kotor aja karena pemakaian. 


Pertama kali pakai sleeping bag ini di Gunung Butak pas musim hujan. Kebayang pas trekking diguyur hujan deras selama berjam-jam namun masih bisa tidur pulas. Diantara sleeping bag yang pernah saya pakai, kemampuan insulasinya nomor dua setelah Eiger Mummy dan imbang dengan Snugpak Travelpak 1. Mungkin karena bobotnya yang ringan (700 gram) sehingga insulasinya agak di kompromikan. Meskipun demikian saya cukup puas. Selama saya pakai tak pernah kedinginan. Dengan catatan tidurnya pakai jaket midlayer dan kaos kaki. Bila masih kedinginan, baru pakai jaket outer, sarung tangan, dan kupluk kepala. Kalau cuma pakai baselayer saja ya kemungkinan hawa dingin bisa tembus.


Dari semua sleeping bag yang pernah saya pakai, seri inilah yang paling breathable alias gak bikin gerah. Hal ini karena insulasinya berbahan Eulin Fiber, semacam serat sintetis dengan karakteristik mirip bulu angsa. Keunggulan bahan ini antara lain: ringan, cepat kering, dan tidak menyerap kelembaban udara. Lapisan shell-nya berbahan nilon ripstop 44D yang kuat dan tidak gampang robek. Lapisan ini juga di-treatment water repellent sehingga mampu menolak air dengan intensitas ringan. Tak perlu khawatir kena tumpahan air minum atau tetesan embun. Gak bakalan rembes ke dalam serat kain. Tapi tetap saja, kalau kena air dengan intensitas tinggi ya tetap saja basah. Untuk itu, selalu bungkus sleeping bag ke dalam plastik tersendiri.


Hanya tersedia satu pilihan warna, yakni biru tua kombinasi hitam. Kantongnya berwarna hitam dan ada tag bertuliskan: maximum warmth with minimum weight. Sleeping bag ini cocok bagi yang berpostur tinggi. Total panjangnya 230 cm. Jadi jangan kuatir soal ukuran karena panjangnya diatas ukuran standar yang cuma 210 cm. Seluruh badan bisa tertutup sempurna dengan amat mudah. Penutup kepalanya dilengkapi dengan puller sehingga bisa dikencangkan. Desainnya agak longgar di bagian kaki sehingga lebih leluasa. Beda ama sleeping bag pada umumnya yang mana bagian kakinya terasa sesak. Kantong penyimpanannya dilengkapi dengan compression strap sehingga packingnya dapat di kompres jadi lebih kecil lagi. Namun tidak disarankan karena akan merusak lapisan filling-nya jika terlalu sering dikompresi. Toh tanpa dikompresi pun packingnya sudah cukup ringkas.


Secara keseluruhan, saya puas dengan sleeping bag ini. Belum kepengin ganti. Insulasinya cukup mumpuni untuk dipakai di gunung-gunung Indonesia. Apalagi seri ini sekarang langka karena sudah tidak diproduksi ama Eiger.


Kelebihan:
  • Bobotnya ringan, packingnya kecil
  • Insulasinya cukup baik
  • Shell-nya water repellent
  • Cocok bagi yang berpostur tinggi
  • Mudah perawatannya

Kekurangan:
  • Harganya lebih mahal dari yang seri mummy biasa, nyaris dua kali lipatnya
  • Sudah jadi barang langka, jarang yang jual