Langsung ke konten utama

Review Sleeping Bag Deuter DreamLite 500

Review Sleeping Bag Deuter DreamLite 500

Sleeping bag ini merupakan sleeping bag ke-empat yang pernah saya beli. Sebelumnya saya pernah memakai Eiger Mummy 02 dan Snugpak Travelpak 1. Deuter merupakan merk outdoor ternama yang memproduksi tas berkualitas prima. Namun tidak demikian kalau soal sleeping bag. Berikut ini review lengkapnya.


Info pembelian
Sleeping bag ini saya beli seharga Rp650.000 di konter Cartenz Jl. Gubeng, Surabaya. Cartenz ini distributor alat outdoor lokal merk Cozmeed. Selain Cozmeed, Cartenz juga menjual tas merk Deuter. Karena stoknya habis, saya inden dulu dari Jakarta. Seminggu kemudian barangnya dikirim.


Alasan beli sleeping bag ini
Sleeping bag ini sebagai ganti Snugpak Travelpak 1 punya saya sebelumnya. Alasannya karena lagi pingin sleeping bag yang ringan. Sempat di saranin ama teman agar jangan pilih sleeping bag ini soalnya masih tembus kalau dipakai tidur di gunung. Karena penasaran, saya tetap bandel membelinya. Saya orangnya mah gini. Gak bakal percaya kalau belum nyobain sendiri.


Riwayat pemakaian
Sleeping bag ini cuma saya pakai dua kali. Yakni camping di Puncak B29 Bromo dan di Gunung Penanggungan. Setelah itu saya jual via online.


Spesifikasi:
Warna: Hitam kombinasi abu-abu
Berat: 600 gram
Panjang total: 205 cm
Lebar bahu: 75 cm
Lebar kaki: 48 cm
Ukuran packing: 12 cm x 25 cm
Outer lining: Dura-Hexlite RS
Inner lining: Soft-Nylon Taffeta
Fill: Polydown Soft Polyester fibre
Fillweight: 160 g
Temperature rating: Comfort 1013°C, Low 3°C
Link website: http://deuter.com/DE/en/synthetic/dream-lite-500-37071-black-grey.html

Review Sleeping Bag Deuter DreamLite 500

Salah satu seri sleeping bag keluaran Deuter, merk outdoor ternama asal Jerman. Setiap produsen biasanya memiliki spesialiasi produk. Nah Deuter ini terkenal akan tas-tasnya yang bisa dibilang kualitas nomor wahid. Namun tidak demikian kalau soal sleeping bag. Mengapa demikian? performa sleeping bag ini ternyata tidak sesuai ekspektasi saya. Di website-nya tidak dicantamkan dengan jelas ini tipe sleeping bag untuk berapa season. Hanya dicantumkan temperature rating antara 13°C (comfort) hingga -3°C (extreme). Jadi wajar jika saya berharap banyak akan kualitas sleeping bag ini. Disamping nama besar Deuter tentunya.


Dari segi kualitas, baik bahan maupun jahitan, sleeping bag ini tampak meyakinkan meski tidak setebal Eiger Mummy ataupun Snugpak Travelpak 1 karena memang tergolong ultralight. Bahan insulasinya terbuat dari serat polyester yang menyerupai bulu angsa / down. Jadi tergolong sleeping bag sintetis. Kelebihan dari bahan ini ialah perawatannya mudah dan lumayan cepat keringnya apabila basah. Kalau basah pun, masih bisa memberikan sedikit insulasi. Beda dengan down yang hilang insulasinya jika basah. Printilan lainnya seperti puller dan zipper menggunakan bahan berkualitas prima. Risletingnya memakai YKK. Soal detail tak perlu diragukan lagi kualitas Deuter.


Panjang sleeping bag ini cuma 205 cm. Lebih pendek dari sleeping bag saya sebelumnya. Bagi yang berbadan tinggi bakal susah ngepasin bagian hoodie-nya. Seri ini sendiri ada dua macam, yakni yang regular dan extra long (EL). Yang EL panjangnya 220 cm. Dilengkapi dengan puller di bagian hoodie agar bisa diketatkan untuk mencegah leher dan kepala dari hawa dingin. Menurut saya, ini merupakan salah satu fitur wajib di sleeping bag. Kantong penyimpanannya bukan yang model compression sack. Namun tak jadi masalah karena ukuran packingnya sudah cukup kecil walau tanpa di kompres.


Saya pakai cuma dua kali. Yakni camping di Puncak B29 (2900 mdpl) dan Gunung Penanggungan (1653 mdpl). Sewaktu saya pakai di Puncak B29, hawa dingin masih bisa tembus padahal sudah pakai jaket rangkap dua (midlayer dan outer layer) ditambah dengan kaos kaki. Memang di kawasan Bromo ini terkenal dengan suhunya yang cukup ekstrim. Bahkan tak jarang hingga minus. Saya baru bisa tidur ketika pakai kupluk dan sarung tangan. Saya jarang tidur dengan pakaian selengkap itu di gunung, kecuali kalau dinginnya kebangetan. Hal ini membuktikan bahwa insulasi sleeping bag ini tak sebaik yang saya kira.


Ketika di Penanggungan, sleeping bag ini masih mumpuni meskipun tidurnya gak pakai jaket. Wajar sih karena tidak seberapa dingin. Singkat kata sleeping bag ini gak cocok dipakai di gunung berketinggian lebih dari 2000 mdpl. Saran teman saya itu memang benar. Insulasinya tidak mampu menahan hawa dingin. Apalagi kalau ditambah dengan angin kencang. Untungnya saya selalu tidur pakai jaket dan kaos kaki. Jadi untuk gunung-gunung kelas berat seperti Kerinci, Semeru, dan Rinjani, sleeping bag ini jelas tidak cocok.


Mungkin sleeping bag ini dipakai buat summer camp seperti layaknya sleeping bag 2 season. Cocoknya buat traveling, bukan untuk hiking. Atau bisa juga dipakai buat camping di daerah perbukitan yang lokasinya tidak seberapa dingin. Yang jelas, secara performa sleeping bag ini mengecewakan. Saya gak habis pikir kenapa di website-nya tidak diberi keterangan bahwa ini sleeping bag 2 season. Supaya konsumen tahu bahwa sleeping bag ini tidak cocok dipakai buat di gunung kelas berat. Padahal di Eropa sono, musim panasnya kadang malah lebih dingin daripada di daerah pegunungan di Indonesia.


Kelebihan:
  • Packingnya kecil dan ringan (bobotnya hanya 600 gram saja)
  • Mudah perawatannya karena berbahan serat sintetis
  • Lumayan cepat keringnya apabila basah

Kekurangan
  • Harganya lebih mahal dari sleeping bag merk lokal 
  • Insulasinya mengecewakan, hawa dingin masih tembus