Langsung ke konten utama

Tips Memilih Kompor Untuk Mendaki Gunung


Ada yang bilang bahwa puncak kenikmatan mendaki gunung itu saat bangun di pagi hari. Menikmati kopi hangat ditemani hawa dingin dan embun pagi. Saat matahari mulai bersinar, kita perlu sarapan agar tubuh dapat asupan energi sebelum melanjutkan perjalanan. Kurang lengkap rasanya kalau mendaki tanpa menyeduh minuman hangat di pagi hari.

Untuk itu, diperlukan kompor gunung. Pemilihan kompor sangat penting supaya pendakian terasa nyaman. Terlebih lagi hal ini berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, yakni konsumsi. Kompor yang baik akan memanjakan kita dalam membuat beraneka-ragam masakan, khususnya bagi anda yang hobi memasak.

Memilih kompor untuk mendaki gunung memang gampang-gampang susah. Ada berbagai faktor yang harus dipertimbangkan. Antara lain:
  • Harga: Peralatan mendaki yang berkualitas tak selalu identik dengan harga yang mahal. Sesuaikan dengan budget dan kebutuhan. Banyak sekali kompor berkualitas mumpuni dengan harga miring yang tersedia di pasaran.
  • Berat dan ukuran: Pertimbangkan bobot dan ukurannya. Terlalu berat bobotnya tentu akan merepotkan dan jika terlalu besar ukurannya akan susah packingnya karena memakan banyak tempat di dalam tas.
  • Kepraktisan: Hari gini sudah gak jamannya lagi pakai kompor yang merakitnya lama. Kalau ada yang praktis, ngapain harus repot-repot.
  • Jenis bahan bakar: Ada tiga jenis bahan bakar kompor gunung. Diantaranya bahan bakar cair seperti alkohol, spiritus, bensin, minyak tanah, dan lain sebagainya. Bahan bakar padat seperti parafin dan ethanol gel. Serta bahan bakar gas seperti gas kaleng yang berisi butana.
  • Kekuatan dan stabilitas nyala api: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendidihkan air. Tentu kita tidak ingin membawa kompor yang butuh waktu 30 menit hanya untuk merebus mie.
  • Ketahanan terhadap angin: Perlu diingat bahwa cuaca di gunung susah ditebak dan selalu berubah-ubah. Penting untuk membawa kompor yang tahan terpaan angin.
  • Ketersediaan bahan bakar: Bawalah bahan bakar cadangan buat berjaga-jaga karena di daerah terpencil atau di pedesaan jarang dijumpai bahan bakar, terutama gas kaleng. Selalu berpedoman prinsip: lebih baik lebih daripada kurang.
  • Residu: Apakah nyala apinya berasap dan membuat panci gosong? Jika iya, hal tersebut akan mempengaruhi rasa dan aroma masakan.
  • Perawatan: Setiap kompor butuh perawatan supaya awet. Perawatan yang mudah akan membuat kompor bertahan lama bahkan hingga bertahun-tahun.

Berdasarkan jenis bahan bakarnya, kompor gunung dibagi menjadi lima macam. Berikut ini penjelasan beserta kelebihan dan kekurangannya masing-masing.


1. Kompor Gas
Kompor jenis ini menggunakan bahan bakar kaleng yang berisi gas butana. Kompor kaleng cocok digunakan di segala kondisi karena nyala apinya stabil dan cukup tahan terpaan angin. Terdiri dari dua rangkaian utama yaitu kompor dan canister-nya. Canister ialah wadah bahan bakarnya. Canister ini bisa diisi ulang. Penggunaan kompor gas di Indonesia sendiri lebih sering memakai converter agar bisa muat dengan gas kaleng yang biasa dijual di minimarket atau di toko-toko outdoor. Lihat gambar di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Tips Memilih Kompor Untuk Mendaki Gunung
Kiri: MSR Pocket Rocket dengan canisternya.
Kanan: Kompor buatan Cina merek Hi-Cook. Lengkap dengan converter (warna hitam) dan gas kalengnya.

Kedua kompor ini bentuknya sangat mungil, hanya seukuran telapak tangan saja.

Contoh merek terkenal yang memproduksi kompor gas antara lain: MSR, Snow Peak, Soto, dan Primus.

Kelebihan dan kekurangan kompor gas:
(+) Bentuknya kecil dan bobotnya ringan
(+) Praktis pemasangannya
(+) Tidak perlu pemanasan, tinggal dinyalakan pakai korek api
(+) Nyala apinya stabil dan bisa diatur sendiri besar-kecilnya
(+) Apinya tidak berbau dan tidak membuat panci gosong
(+) Cukup tahan terpaan angin
(+) Mudah perawatannya
(-) Tidak cocok buat panci berukuran besar karena kompornya kecil
(-) Suhu dingin dapat menyebabkan penurunan tekanan udara di dalam canister atau gas kaleng sehingga api yang dihasilkan kecil
(-) Tidak ada indikator bahan bakar sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti sisa bahan bakar di dalam kaleng
(-) Bahan bakarnya relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan bahan bakar padat maupun cair
(-) Bahan bakarnya hanya tersedia di minimarket di kota-kota besar
(-) Penyimpanan gas kalengnya perlu hati-hati dan dijauhkan dari benda tajam agar tidak bocor / meledak


2. Kompor Liquid
Merupakan modifikasi dari kompor gas. Terdiri dari tiga bagian utama yakni kompor, selang, dan botol. Kompor ini menggunakan bahan bakar cair. Biasa digunakan untuk musim salju dengan cuaca ekstrim karena nyala apinya yang sangat stabil. Seiring dengan maraknya trend ultralight-hiking, kompor jenis ini mulai ditinggalkan karena kalah praktis dan bobotnya lebih berat dari kompor gas. Meskipun demikian, soal stabilitas dan efisiensi bahan bakar kompor ini masih nomor satu.

Beberapa contoh kompor liquid yang sangat populer. Dari kiri ke kanan: MSR Whisperlite, Soto Muka, dan Optimus Nova Stove.

Kelebihan dan kekurangan kompor liquid:
(+) Mampu menopang panci berukuran besar
(+) Cocok untuk grup besar (lebih dari 5 orang)
(+) Bahan bakarnya murah dan mudah dicari
(+) Pembakarannya sangat efisien sehingga lebih irit bahan bakar
(+) Dapat diisi ulang sehingga mudah untuk mengetahui sisa bahan bakar di dalam botol
(+) Nyala apinya sangat stabil meskipun di suhu minus dan dapat diatur sendiri besar-kecilnya
(+) Tahan terpaan angin
(+) Apinya tidak berbau dan tidak membuat panci gosong
(-) Harganya mahal
(-) Bobotnya lebih berat daripada yang kompor gas
(-) Penggunaannya kurang praktis karena harus di pompa terlebih dahulu
(-) Botolnya rawan tumpah saat di pompa sehingga harus hati-hati supaya apinya tidak menjalar
(-) Pembakarannya berisik
(-) Butuh perawatan khusus supaya awet


3. Kompor Spiritus
Meski sempat redup setelah kemunculan kompor liquid dan kompor gas, kompor berbahan bakar spiritus kembali diminati para pendaki karena bentuknya yang mungil, sangat ringan, dan praktis. Merek pembuat kompor spiritus yang paling terkenal ialah Trangia. Merek asal Swedia ini telah berdiri sejak 1925. Bahkan saking terkenalnya, seringkali kita menyebut kompor jenis ini dengan sebutan Trangia. Padahal belum tentu mereknya Trangia. Sama halnya seperti orang menyebut pompa air dengan sebutan Sanyo. Kompor jenis ini disebut juga dengan burner.

Tips Memilih Kompor Untuk Mendaki Gunung
Trangia Spirit Burner, kompor paling legendaris di kelasnya.

Kelebihan dan kekurangan kompor spiritus:
(+) Sangat ringan dan praktis
(+) Harganya murah, bahkan bisa buat sendiri pakai kaleng bekas 
(+) Sangat awet dan mudah perawatannya
(+) Pembakarannya tidak menimbulkan suara
(+) Apinya tidak membuat panci gosong
(-) Pembakarannya lama
(-) Nyala apinya tidak bisa di kontrol
(-) Boros bahan bakar
(-) Sangat rentan terpaan angin
(-) Jarang toko yang menjual spiritus


4. Kompor Parafin
Kompor yang biasa dipakai tentara saat bertugas di hutan belantara. Kompor jenis ini bisa dibeli di toko-toko outdoor maupun di toko aksesoris militer. Biasanya dalam pembelian sudah satu paket parafin-nya. Parafin ialah bahan bakar padat yang menyerupai lilin. Biasanya berbentuk balok dan berwarna putih. Parafin mampu terbakar selama 12 - 15 menit. Kekuatan apinya tidak begitu kuat sehingga butuh waktu yang lumayan lama buat mendidihkan air. Jika anda sering memasak, sebaiknya bawa parafin yang banyak.

Tips Memilih Kompor Untuk Mendaki Gunung
Penggunaan kompor parafin.

Kelebihan dan kekurangan kompor parafin:
(+) Harganya murah, sudah satu paket dengan bahan bakarnya
(+) Ringan dan praktis
(+) Tidak butuh perawatan khusus
(-) Apinya membuat panci gosong
(-) Pembakarannya lama
(-) Nyala apinya tidak bisa di kontrol
(-) Boros bahan bakar
(-) Sangat rentan terpaan angin
(-) Asapnya menimbulkan bau menyengat sehingga mempengaruhi rasa dan aroma masakan


5. Kompor Kayu
Kompor berbahan bakar kayu ini masih sering dipakai untuk latihan survival. Kompor jenis ini sekarang mulai jarang dipakai hiking karena kurang praktis. Cocok bagi anda yang ingin lebih dekat dengan alam. Ada sensasi tersendiri jika memasak pakai kompor ini.

Tips Memilih Kompor Untuk Mendaki Gunung
Penggunaan kompor kayu.

Kelebihan dan kekurangan kompor kayu:
(+) Cukup ringan dan praktis
(+) Harganya murah, bahkan bisa buat sendiri pakai kaleng bekas 
(+) Sangat awet dan mudah perawatannya
(+) Tidak perlu bawa bahan bakar dari rumah, cukup pakai ranting kayu yang banyak tersedia di alam
(+) Tidak ada resiko kebocoran atau ketumpahan bahan bakar
(-) Banyak asapnya, perih jika terkena mata
(-) Apinya membuat panci gosong
(-) Pembakarannya lama, butuh kesabaran ekstra
(-) Nyala apinya tidak stabil dan tidak bisa di kontrol
(-) Tidak cocok digunakan saat musim hujan
(-) Sangat rentan terpaan angin


Kesimpulan
Itulah penjelasan tentang berbagai jenis kompor untuk mendaki gunung beserta kelebihan dan kekurangannya. Sebagai gambaran, saya pernah mencoba semua jenis kompor di atas. Menurut saya yang paling cocok dipakai di gunung-gunung Indonesia ya kompor gas karena ringan, praktis, dan yang terpenting stabil nyala apinya. Dari segi harga juga sangat variatif. Ada yang kelas atas, menengah, hingga yang murah. Tinggal pilih sesuai budget dan kebutuhan anda.

Silahkan kasih komentar jika ada yang ingin ditanyakan seputar kompor gunung dan jangan lupa bagikan artikel ini jika bermanfaat.