Langsung ke konten utama

Etika Saat Mendaki Gunung

Etika Yang Perlu Dijaga Saat Mendaki Gunung

Naik gunung selain harus taat pada aturan juga harus menjaga etika. Etika ini umumnya berupa aturan tak tertulis yang dianggap baik alias sudah menjadi kebiasaan bersama. Setiap pendaki harus paham tentang etika ini. Disamping itu juga ada beberapa larangan yang harus diperhatikan oleh setiap pendaki gunung. Apa saja larangan itu? simak artikelnya disini. Berikut ini etika saat mendaki gunung.

Berdoa sebelum memulai pendakian
Sejak TK hingga SMA sebelum pelajaran dimulai pasti diawali dulu dengan berdoa bersama. Tak hanya di sekolah, di gunung pun juga demikian. Doa bisa menolak bencana. Bukannya sok religius, tapi emang demikian adanya. Sudah jadi kultur di masyarakat kita bahwa sebelum melakukan sesuatu hendaknya berdoa dulu.

Tidak sombong dan takabur
Yang namanya mendaki gunung pasti ada risikonya. Kalau gak percaya coba tanya pendaki yang pernah mengalamai kejadian buruk saat mendaki gunung. Banyak diantaranya yang diakibatkan oleh sifat sombong. Mereka terlalu menyepelekan. Gunung bukan tempat pamer dan gagah-gagahan. Sekali lengah sedikit bisa berakibat fatal. Bahaya bisa datang kapan saja dan tak pandang bulu. Beberapa bahaya yang sering terjadi saat mendaki gunung dan tips pencegahannya bisa anda baca disini.

Menjaga lisan dan perbuatan
Gunung merupakan tempat tinggal berbagai makhluk hidup. Baik yang tampak maupun yang tidak kasat mata. Oleh karena itu kita wajib menjaga lisan dan perbuatan. Jangan berteriak apalagi sampai tertawa cekikikan. Jangan membunyikan musik dengan volume keras-keras. Terutama saat malam hari. Hormati pendaki lain yang ingin istirahat dengan tenang.

Saling bertegur sapa sesama pendaki
Serunya mendaki tak hanya dari pemandangan alamnya saja. Kalau ketemu pendaki lainnya rasanya tambah bersemangat. Tapi entah sejak kapan nilai-nilai kebersamaan ini mulai hilang. Meski sebagian besar pendaki yang saya jumpai masih mau diajak bertegur sapa, namun yang cuek justru semakin banyak. Berbeda sekali dengan beberapa tahun yang lalu. Saya tidak tahu penyababnya apa atau cuma perasaan saya saja. Yang jelas kebersamaan itu rasanya tidak sekuat dulu.

Dahulukan pendaki yang mau turun
Terkadang jalur pendakian jadi penuh sesak dipadati pendaki. Terutama di gunung-gunung yang populer. Apalagi saat hari libur dan akhir pekan. Kalau berpapasan dengan pendaki lain, selalu dahulukan yang akan turun. Minggir dulu buat ngasih jalan yang mau turun. Jangan rebutan karena ini bukan antri sembako.

Memilih tempat buang hajat yang aman
Jangan anggap remeh kalau soal buang air. Entah buang air besar atau kecil. Pilih tempat yang tertutup dan jauh dari jalur pendakian. Usahakan sejauh mungkin dari sumber air. Menurut kaidah internasional, jarak aman dari sumber air minimal 60 meter untuk menghindari pencemaran. Galilah tanah kira-kira sedalam 20 cm dan tutup kembali bersama dengan tisunya jika sudah selesai.

Menjaga adat-istiadat setempat
Tiap-tiap daerah memiliki adat yang berbeda. Sebelum mendaki hendaknya cari tahu juga informasi mengenai adat penduduk setempat. Contohnya tidak boleh membawa makanan yang mengandung daging sapi saat mendaki Gunung Agung di Bali. Kadang sebagai orang kota, kita meremehkan hal ini. Patuhi kebiasaan penduduk setempat bila tidak mau celaka dan repot nantinya.

Itulah berbagai etika yang perlu dijaga saat mendaki gunung. Mungkin masih ada lagi yang lainnya. Bagi yang mau nambahin silahkan kasih komentar di bawah ini.