Langsung ke konten utama

Membaca Market Trend dan Strategi Pemasaran Eiger

Membaca Market Trend Eiger
Foto diambil dari sini.

Eiger dikenal sebagai produsen alat outdoor lokal yang paling digemari. Merek asli bikinan Indonesia yang bernama lengkap PT. Eigerindo Multi Produk ini telah berproduksi sejak tahun 1993. Kini outletnya tersebar di hampir setiap kota besar di Indonesia. Bahkan kabarnya Eiger mulai serius untuk terjun di pentas internasional. Wah, enggak main-main. Selain itu, Eiger punya banyak merek turunan. Antara lain: Exsport, Neosack, Bodypack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica serta Broklyn.


Salah satu alasan kenapa Eiger banyak diminati selain karena kualitasnya yang bandel ialah karena namanya yang sudah melegenda. Kalau kita punya kakak atau om yang suka naik gunung di era 90-an pasti tahu. Merek ini bersaing ketat dengan Alpina yang jadi primadona kala itu. Hingga akhirnya Alpina gulung tikar tahun 2009. Belakangan Alpina mulai bangkit lagi, meski hanya memproduksi celana. Alpina belum bisa memproduksi tas gunung seperti dulu lagi.


Membandingkan kedua merek ini di era 90-an tidak ada habisnya. Layaknya perseteruan abadi antara iOS vs Android dan Messi vs Ronaldo. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Eiger menang di desain dan finishing-nya sedangkan Alpina lebih murah harganya. Persamaan dari keduanya yakni sama-sama awet. Seperti sudah menjadi spesialisasi Eiger, terutama dari segi desain, mereka terus berkembang dan berinovasi hingga sekarang.


Dulu sebelum tahun 2010 belum begitu populer istilah ultralight hiking. Tas carrier model tinggi menjulang ke angkasa dengan kapasitas super besar masih menjadi idaman. Tas model ini dinilai pas lantaran bisa membawa beban hingga 25 kg bahkan lebih. Paradigma itu sekarang sudah kuno. Kini mendaki jadi lebih nyaman dengan prinsip ultralight hiking tanpa mengorbankan sisi keamanan dan keselamatan. Dengan meminimalisir bobot barang bawaan, otomatis pendakian akan terasa lebih nyaman. Rasa capek dan pegal-pegal pun berkurang.


Peralatan pendakian yang ultralight dirancang sedemikian rupa sehingga bobotnya bisa ditekan. Contohnya nesting atau tempat memasak. Dulu nesting TNI masih memonopoli pasar. Meskipun awet, bobotnya lumayan berat apalagi kalau bawa satu paket. Hal ini bisa dimaklumi karena bahannya terbuat dari besi yang cukup tebal. Kini sudah ada kompor ultralight yang terbuat dari campuran alloy dan titanium. Besi berkualitas yang dikenal lebih ringan dan tetap tahan banting. Begitu juga soal frame dan pasak tenda. Semua yang berbau besi-besian sudah mulai beralih ke alloy atau titanium.


Setelah bobot barang bawaan bisa dikurangi, tentu ukuran tasnya juga diperkecil. Ngapain pakai carrier 80 liter jika sudah ultralight-an semua. Kini tas jenis inilah yang lagi naik daun. Kapasitasnya antara 40-55 liter. Meski tak seberapa besar, ketangguhannya tidak kalah ama tas keluaran tas 90-an. Dengan memakai bahan berkualitas yang terkenal awet seperti Cordura, bobot tas bisa ditekan. Dari segi kenyamanan pun meningkat drastis.


Kembali ke Eiger, mereka paham betul adanya pergeseran tren ini. Beberapa waktu lalu mereka merilis tas gunung seri Rhinos. Saya kaget begitu lihat modelnya. Mirip ama Fjallraven Bergen 30 yang dibanderol 2,2 juta rupiah. Nyaris tiga kali lipat dari harga Rhinos. Memang secara kapasitas masih besaran Eiger. Namun dari segi desain dan bahkan warna, sangat mirip. Eiger paham jika ingin merebut pasar ultralight mereka harus tancap gas. Gak boleh setengah-setengah. Maka dari itu mereka "mencontoh" Fjallraven, salah satu merek langitan di dunia outdoor.


Tagline yang diusung Eiger kali ini yakni Mountain and Jungle Cross Series, Enginereed For Tropic Adventure. Jargon ini seolah-olah menyiratkan bahwa merek luar kurang cocok jika dipakai di Indonesia yang beriklim tropis. Tamparan keras buat merek outdoor impor. Eiger gencar memposting tagline-nya di berbagai media sosial. Hal ini untuk menguatkan brand image mereka bahwa produknya memang dirancang secara spesifik untuk dipakai di daerah tropis. Wow, strategi pemasaran yang jenius.


Soal harga, tas tersebut agaknya masih standar untuk ukuran tas lokal. Berbeda dengan produk Eiger lainnya yang harganya kian mahal. Semisal sepatu, jaket, celana, tenda, dan jam tangan. Saya pernah beli sepatu Eiger W134 dan sejak itu skeptis ama merek ini (baca reviewnya disini). Mungkin kini Eiger telah berbenah diri dan lebih meningkatkan standar kualitas produk-produknya agar bisa merambah pasar mancanegara. Ditandai dengan bergantinya logo Eiger menjadi lebih modern pada pertengahan tahun 2014 yang lalu.


Dilihat dari segi kualitas, saya gak bisa kasih pendapat soalnya belum pernah nyobain langsung Tas Rhinos ini di lapangan. Sekilas dari spesifikasinya sih lumayan. Apalagi merek outdoor lokal lainnya seperti Rei, Consina, Cozmeed, dan Avtech belum ada yang ngeluarin tas ultralight macam begini. Jika melihat antusiasme masyarakat yang kian meroket terhadap produk-produk Eiger, bisa jadi Eiger bakal dicap sebagai merek outdoor lokal dengan rasa internasional. Baik soal harga maupun kualitas.