Langsung ke konten utama

Menelisik Lebih Jauh Dampak Film 5 cm


"Gantungkan keinginan loe 5 cm di depan jidat loe. Biarkan mengambang. Mengambang seakan-akan loe meraihnya." -Quote yang bagus, tapi jangan sekali-kali di teriakin pas lagi naik gunung. Yang ada bukannya keren malah loe dinyinyirin ama pendaki senior.


Sebagian dari kita hobi mendaki gunung sejak SMA. Bermula dari ikut kegiatan ekstra kurikuler seperti Pencinta Alam atau seperti saya yang berawal dari ajakan teman. Mulanya saya ragu waktu pertama kali diajak naik gunung. Setelah diyakinkan teman saya yang sudah berpengalaman bahwa gunung yang akan di daki ini tidak begitu sulit medannya, barulah saya mau. Ditambah lagi dengan banyak kawan yang ikut. Wah sudah pasti bakal seru. Gunung yang akan kami tuju ini ialah Gunung Penanggungan di Mojokerto, Jawa Timur. Gunung yang terkenal ramah bagi pendaki pemula.


Keraguan saya waktu itu tak hanya soal fisik, tapi juga persiapan. Secara fisik, saya sadar bahwa mendaki gunung bukan sekedar jalan-jalan santai di kebun binatang. Butuh latihan fisik buat pemanasan biar gak kaget setibanya disana. Terutama melatih otot dan persendian supaya gak gampang kram / keseleo. Boro-boro joging, tiap harinya aja saya susah bangun pagi. Kalau gak ada kuliah, ya lanjut tidur lagi. Olahraga-pun nyaris tak pernah. Diajak teman kampus main futsal, saya gak mau. Diajak fitness, gak punya duit. Belum lagi beli suplemennya. Diajak renang pun, saya takut air (beneran!).


Alhasil debut saya waktu itu nyaris tanpa latihan fisik sama sekali. Cuma modal tekad dan keyakinan doank. Begitu pula soal persiapan. Karena berbagai tetek bengek-nya sudah diatur oleh teman saya yang berpengalaman. Soal tenda, kompor masak, matras, dan lain sebagainya dia yang mengatur. Saya cuma bawa barang pribadi saja. Singkat cerita, debut pendakian saya berjalan lancar. Rasanya terbayar sudah setibanya di puncak. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Yang pernah naik gunung pasti paham. Bagi yang belum pernah? Coba aja. Nanti kalau ketagihan tanggung sendiri.


Apa hubungannya dengan film 5 cm?

Nah, tadi sudah saya ceritakan secara singkat awal mulanya saya tertarik mendaki. Berselang lima bulan setelah itu, di tanggal yang konon katanya cantik (12 Desember 2012 alias 12-12-12) rilis sebuah film berjudul 5 cm. Film garapan Rizal Mantovani ini dibintangi oleh sederet nama beken seperti Herjunot Ali, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Raline Shah, Denny Sumargo, Saykoji, dan Didi Petet. Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Donny Dhirgantoro yang rilis tahun 2005. Novel ini mencetak rekor bestseller di Toko Buku Gramedia selama 2 tahun berturut-turut. Jadi 5 cm ini sudah pernah booming duluan walau hanya lewat novel. Karena novelnya sukses, di buatlah film adaptasinya.


Satu bulan sebelum filmnya rilis, saya dan rombongan teman sekampus pergi ke Semeru. Berbeda dengan debut saya di Penanggungan, pendakian saya yang kedua ini kurang berkesan. Sebabnya, gunung penuh sesak dipadati pendaki. Feel-nya kurang dapet. Tak bisa dipungkiri bahwa pesona Semeru dan Ranu Kumbolo memang luar biasa. Tapi coba rasakan sensasinya ngecamp disitu bareng ratusan tenda lainnya. Masih berasa syahdu? Kagak. Justru njengkelin. Cerita perjalanan saya ke Semeru bisa dibaca disini. Yang jelas sangat tidak nyaman. Gara-gara itu saya hampir kapok naik gunung lagi.


Emang gimana sih filmnya?

Setelah rilis di bioskop, mendadak setiap orang ngomongin 5 cm. Bahkan yang awam hiking sekalipun. Pas di kampus, semua pada ikut-ikutan ngobrolin film ini. Mereka kepengin ke Semeru. Karena penasaran, saya dan dua orang teman saya akhirnya nonton 5 cm di bioskop. Sudah 2 minggu rilis namun penontonnya masih lumayan banyak. Termasuk bapak-bapak. Mungkin ngefans ama Pevita Pearce atau Raline Shah.


Seumur-umur baru sekali ini saya ke bioskop buat nonton film lokal. Filmnya secara penokohan terbilang unik karena masing-masing karakter punya latar belakang yang berbeda. Kadang diselipkan komedi. Tidak terkesan kaku dengan dialog yang dipaksakan seperti film tahun 2000-an (Ada Apa Dengan Cinta, contohnya). Tema yang diangkat sangat inspiratif. Tentang persahabatan, cinta, tekad, dan impian. Tema kesukaan Mario Teguh.


Lantas gimana filmnya? cukup bagus, khususnya dari segi sinematografi. Keindahan Semeru terlihat begitu jelas. Nonjok di mata. Secara keseluruhan menurut saya lumayan. Saya beri nilai 3 dari 5. Sehabis nonton, teman saya pun merasa demikian. Dari segi cerita memang seru. Teman saya yang mantan Pencinta Alam itu bilang kalau filmnya kurang memuaskan lantaran banyak cerita menarik di novel yang mestinya bisa ditambahkan. Ya, dia sudah baca novelnya waktu di SMA dulu. Mungkin ekspektasinya terlalu tinggi, tetapi pada intinya kami setuju bahwa film ini not bad.


Apa yang salah dengan 5 cm?

Alur cerita di film ini baru panas saat mulai pendakian ke Semeru. Dari sinilah mulai muncul banyak keganjilan. Ganjil dalam arti kurang realistis alias gak masuk akal. Kalau menurut Bung Wira Nurmansyah sih ada 5 kejanggalan di film tersebut (baca disini). Bagi yang malas baca, saya rangkumkan sebagai berikut:
  1. Mendaki menggunakan celana jeans
  2. Tidak membawa air yang cukup
  3. Tas carrier yang terlihat ringan
  4. Terlalu memaksakan diri ke puncak
  5. Melanggar peraturan pendakian
Lima poin diatas bisa berakibat fatal jika kita terapkan di gunung. Akibat terlalu mengejar estetika, sang sutradara lupa akan hal terpenting dalam hiking: keselamatan. Seharusnya sebagai sutradara ia harus pelajari dulu seluk-beluk dunia pendakian guna memastikan agar filmnya benar-benar riil, termasuk soal keamanan pendakian. Hal mendasar inilah yang luput dari perhatian si sutradara. Padahal Rizal Mantovani termasuk salah satu sineas top di Indonesia. Mungkin waktu itu penggarapan film ini dikebut demi mengejar momen langka rilis di tanggal cantik hingga lupa menyurvei peraturan dan kondisi di lapangan.


Si sutradara mungkin tak menduga bahwa filmnya bakal berdampak besar bagi anak-anak muda di Indonesia. Banyak diantaranya yang kepengin naik gunung gara-gara nonton 5 cm. Tak terhitung berapa kali saya jumpai pendaki "generasi 5 cm". Pendaki yang meniru gelagat idolanya di film tersebut. Baik soal penampilan maupun kenekatan. Tanpa disadari, mereka jadi korban 5 cm. Tanpa pemahaman dan persiapan yang baik soal mendaki gunung, mereka percaya bahwa yang diperlukan hanyalah kaki yang akan melangkah lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak, mata yang akan melihat lebih lama, leher yang akan lebih sering mendongak, tekad yang setebal baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras serta mulut yang selalu berdoa.


Dengan balutan kata-kata mutiara, film 5 cm sukses membius generasi muda supaya memiliki tekad dan keinginan yang kuat. Sebenarnya ini hal yang positif, tapi tidak begitu saja bisa diterapkan dalam pendakian. Seorang pendaki memang harus memiliki tekad dan impian yang tinggi, namun juga perlu persiapan dan pengetahuan yang mumpuni tentang pendakian. Jika tidak diimbangi dengan persiapan, itu nekat namanya. Inilah yang tidak dicontohkan dalam film 5 cm. Dalam film tersebut, tidak ada persiapan sama sekali. Bahkan mereka tidak tahu kalau bakal naik ke Gunung Semeru. Mereka nurut saja sama Genta (diperanin ama Fedi Nuril). Saya gak paham, Genta ini mau ngasih motivasi atau mau nyelakain teman-temannya. Dan lucunya lagi, jika buat memotivasi teman-temannya kenapa harus naik gunung? ke Semeru lagi. Gunung tertinggi di Jawa. Gunung yang gak bisa dibilang bersahabat. Apalagi ada temannya yang super-duper gemuk, si Ian (diperanin ama Saykoji). Si Genta memang gak berperasaan.


Seperti poin nomor 4 diatas. Terlalu memaksakan diri ke puncak. Naif jika mengatakan puncak bukan tujuan seorang pendaki. Akan tetapi, perlu diingat bahwa puncak bukanlah satu-satunya tujuan mendaki. Tujuan yang paling utama ialah pulang dengan selamat. Mindset ini tidak disertakan ke dalam film. Sangat disayangkan. Apa jadinya jika pendaki pemula, tanpa persiapan yang matang, terlalu memaksakan diri ke puncak?.


Konon katanya, pembuatan film ini juga melanggar aturan pendakian ke Semeru dan merusak keasrian alam (baca beritanya disini dan disini). Toh andaikan itu tidak benar, tetap saja di filmnya sendiri dipertontonkan adegan berenang di Danau Ranu Kumbolo yang jelas-jelas dilarang. Bisa jadi pas nyebur ke danau syutingnya di kolam renang. Yang jelas adegan tersebut merupakan contoh buruk yang bisa ditiru siapa saja yang menontonnya.


Beda kisah, beda cerita

Tak elok kalau mengkritik sesuatu tanpa berkaca dari diri sendiri terlebih dahulu. Maka dari itu, di awal tadi sudah saya ceritakan bagaimana awal mula saya tertarik mendaki gunung. Saya mendapat bimbingan dari teman yang lebih dulu terjun ke hobi ini. Dia aktif di organisasi Pencinta Alam semenjak SMA dan pastinya sudah banyak makan garam. Jadi, saya mendapat mentoring dari dia mengenai dasar-dasar pendakian. Seperti barang apa saja yang harus dibawa dan berbagai persiapannya. Bagi pendaki pemula, figur pembimbing ini sangatlah penting supaya tidak sembrono yang ujung-ujungnya bisa berakibat fatal. Begitu pula dengan gunung yang akan di daki. Seorang pemula hendaknya tidak langsung naik ke gunung yang susah medannya. Dimulai dari yang mudah dulu supaya terbiasa. Begitu seterusnya. Karena sejatinya mendaki gunung itu sangat serius. Gak bisa dianggap remeh.


Dua hal ini, figur pembimbing dan gunung yang akan di daki, merupakan aturan tak tertulis yang harus dipahami oleh tiap pendaki pemula. Seperti yang sudah saya bahas di atas, banyak dari mereka yang menelan mentah-mentah film ini. Banyak yang langsung ke Semeru tanpa latihan dan persiapan matang terlebih dulu. Bahkan mereka belum pernah mendaki gunung sama sekali dan hanya berbekal informasi dari internet. Tanpa di dampingi pendaki yang berpengalaman. Nah, ini yang gawat.


Pasca 5 cm

Setelah rilisnya film tersebut, pendaki gunung kian membludak. Tak hanya di Semeru, tapi juga di gunung-gunung lainnya seperti Kerinci, Rinjani, Gede-Pangrango, Tambora, dan banyak lagi yang lainnya. Pada akhir pekan atau di hari libur nasional, gunung-gunung tersebut tak pernah sepi dari pendaki. Membludaknya pendaki ini menyisakan kisah pilu tentang kerusakan alam, kebakaran hutan, dan tumpukan sampah. Pesan menjaga kelestarian alam ini luput dalam cerita 5 cm, meski di salah satu adegannya ada sedikit cuplikan tentang solidaritas antar-pendaki. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan film ini. Pada dasarnya memang film ini bukan film tentang mendaki gunung. Yang ingin ditonjolkan ialah tentang persabahatan, tekad, dan impian. Hanya saja "caranya" dengan mendaki gunung. Masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak muda, memang terkenal latah meniru tokoh idolanya tanpa menggali informasi lebih jauh. Ini yang seharusnya bisa di waspadai oleh sutradara.


Demikian pula dengan kontrol di pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selaku pengelola yang mestinya bisa lebih memperketat Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Dengan ini semoga kedepannya bisa tegas dalam menindak pelaku pengrusakan lingkungan jika memang telah terbukti melanggar. Intinya, kesadaran itu harus kita sendiri yang mengawali. Tidak serta merta menyalahkan pihak lain.


Membahas dampak film 5 cm hanya dari sisi negatif-nya tidaklah fair. Ada sisi positifnya. Film ini berhasil memperkenalkan kegiatan mendaki gunung di masyarakat luas. Semenjak akhir tahun 2012, terjadi lonjakan jumlah pendaki yang cukup besar. Animo ini terlihat jelas dan tak perlu pakai data stastistik. Jika kita sering mendaki gunung pasti tahu. Saya masih ingat betul dulu waktu bawa tas carrier seukuran anak TK di terminal atau stasiun pasti dilihatin orang-orang, mungkin dikira mau minggat. Kalau sekarang jarang ada orang yang ngeliatin. Mereka lumrah karena sudah sering lihat pendaki gunung dengan tas-nya yang menjulang tinggi di langit.


Naiknya minat mendaki membawa dampak yang positif bagi pelaku bisnis terkait. Toko-toko outdoor laku keras. Baik toko retail maupun perseorangan. Persewaan alat-alat outdoor juga kian menjamur. Waktu itu saya sering jualan alat-alat outdoor bekas via online. Tak butuh waktu lama buat di iklanin, pasti cepat lakunya. Jasa travel dan paket wisata ke gunung-gunung laris manis. Begitu pula dengan toko-toko kecil di sekitar pos pendakian. Banyak pendaki yang membeli logistik di warung-warung dekat situ. Pemasukan dari izin pendakian pun naik drastis. Jika dikelola dengan baik, pemasukan ini bisa digunakan untuk membiayai konservasi hutan.


Secara luas, tingginya minat mendaki ini membawa dampak positif bagi perkembangan pariwisata di Indonesia. Banyak gunung-gunung yang dulunya sepi pendaki sekarang menjadi ramai. Tak hanya gunung, banyak tempat wisata yang kurang terekspos kini mulai viral di media sosial. Semua itu dengan catatan harus dibarengi dengan kesadaran untuk menjaga dan melestarikan alam. Jika sudah demikian, diharapkan bisa menambah kecintaan kita pada tanah air. Pesan yang juga disampaikan di film ini.


Untungnya setelah itu tidak muncul lagi film bertema serupa. Mungkin kapok setelah mendapat kritikan dari berbagai pihak. Bisa dibayangkan jika film seperti ini menjadi tren. Seperti tren film horror disertai adegan vulgar yang sempat marak beberapa tahun lalu. Bakal makin banyak pendaki pemula bercelana jeans yang hanya bermodalkan tekad dan nekat.