Langsung ke konten utama

Review Sepatu Gunung Eiger W134

Review Sepatu Gunung Eiger W134

Sepatu ini merupakan sepatu gunung kedua yang saya beli setelah Karrimor Skido KW bikinan lokal. Sempat kepikiran mau nulis review tentang Karrimor Skido tapi buat apa toh itu sepatu KW, bukan asli. Maklum dulu belinya masih newbie jadi masih buta merek. Berikut review lengkap sepatu gunung Eiger W134.

Info pembelian
Sepatu ini saya beli sekitar bulan September 2013 di Eiger Store Manyar - Surabaya seharga Rp799.000. Sekarang harganya sudah naik jadi sekitar Rp900.000. Eiger ini memang terkenal cepat naikin harga, apalagi jika barang tersebut laku keras. Coba kalian amati kalau gak percaya.

Alasan memilih sepatu ini
Waktu itu kepingin beli sepatu Eiger karena ada teman saya yang pakai. Saya lupa serinya. Yang jelas seri diatasnya W134 karena sudah pakai membran SympaTex sehingga waterproof-breathable. Kalau seri ini cuma tertera waterproof saja. Tanpa ada keterangan memakai membran atau laminasi apa. Setelah Karrimor Skido KW saya laku terjual, saya lalu hunting di Eiger Store terdekat. Apa daya, dompet hanya cukup buat beli yang seri ini. Faktor lain yang jadi pertimbangan tentunya adalah merek. Kalau disuruh memilih dari beragam merek outdoor lokal, saya lebih memilih Eiger karena sudah pemain lama dan kualitasnya gak kalah bersaing dengan bikinan luar. Bukannya merek lokal yang lain jelek, hanya saja menurut saya Eiger tetap yang terbaik untuk pasar alat-alat outdoor bikinan lokal.

Riwayat pemakaian
Sepatu ini saya pakai mendaki ke Gunung Rinjani, Slamet, Bromo, Merapi-Ijen, dan Ciremai. Diantara pendakian itu, sepatu ini sudah menerjang segala medan. Berbagai halangan, rintangan, semakin panjang membentang, tak jadi masalah dan tak kan jadi beban pikiran (kok malah tembusnya lagu Kera Sakti). Dari mulai trek berpasir, bebatuan, hutan belantara, semak belukar, susur sungai, hingga tanah berlumpur akibat hujan deras. Sepatu ini akhirnya saya jual ke teman di bulan Desember 2014.

Spesifikasi Produk
Seperti layaknya produk-produk teknikal Eiger lainnya, seri ini pun juga dibuat di Cina. Hal ini sudah jadi "kebiasaan" Eiger. Jika produknya masuk kategori teknikal, maka akan diproduksi di Cina. Mungkin karena disini belum ada pabrik yang bisa memproduksi massal produk tersebut atau mungkin juga karena biaya produksi di sana lebih murah. Hanya Eiger yang tahu. Berikut ini spesifikasi sepatu Eiger W134 seperti yang tertera di situsnya:
  • Upper cow-suede leather with nylon
  • Brush rubber toe cap and heel counter piece
  • Waterproof function
  • Vibram rubber outsole
Lagi-lagi Eiger kurang detail ngasih spesifikasi barangnya. Jika ada manajemen Eiger yang kebetulan baca review saya ini, mohon lebih diperhatikan lagi. Mbok ya kasih deskripsi yang lebih detail lagi semisal gender sepatu, ketersediaan ukuran, varian warna dan beratnya.


Review Sepatu Gunung Eiger W134

Review Sepatu Gunung Eiger W134

Review Sepatu Gunung Eiger W134

Desain
Sepatu ini berwarna coklat kombinasi hijau lumut. Bahan yang digunakan ialah nilon, suede, dan karet. Tampak banget kesannya kalau sepatu ini memang diperuntukkan trekking. Lidah sepatu dibuat melebar supaya tidak kemasukan air dari sela-sela tali sepatu. Di bagian depannya ada karet yang berfungsi untuk melindungi jari kaki dari benturan. Di bagian tumit ada logo Vibram. Lumayanlah buat gagah-gagahan. Bila dibandingkan Merrell Moab Mid GTX dengan size yang sama, ternyata sepatu ini agak besaran. Mungkin sengaja dibikin agak besaran supaya kaki tidak mudah lecet. Dari segi desain saya rasa biasa-biasa saja. Tidak ada yang wah. Paling enggak kesan gagahnya dapet lah.
Nilai = 6/10

Performa dan Kenyamanan
Secara garis besar, sepatu ini lumayan nyaman. Ukurannya pas di kaki, bahkan terbilang masih agak longgar. Ini sangat membantu untuk mencegah timbulnya luka lecet-lecet pada kaki. Memang luka lecet sulit dihindari, tapi dengan adanya kelonggaran itu lecet-lecet saya tidak separah sebelumnya. Bahkan saat dipakai trekking jauh pun sepatu ini masih tetap nyaman. Meskipun terbuat dari bahan karet, nilon, dan suede, bobot sepatu ini tergolong masih cukup ringan. Sepatu ini lumayan empuk dan cukup lentur sehingga menambah kenyamanannya. Karena memakai sol Vibram, sepatu ini cukup dapat diandalkan di berbagai medan. Tetap harus berhati-hati jika melewati lumut karena mudah sekali selip. Sol-nya dan jahitannya terbilang awet. Nyaris tidak ada tanda-tanda koyak atau terkikis meski sudah saya pakai beberapa kali naik gunung. Hal lainnya yang patut dicermati ialah waterproofing-nya. Ketika dipakai hujan-hujanan, air memang tidak gampang masuk melalui jahitan. Namun tetap saja bakal tembus ketika diguyur hujan deras yang terus menerus atau di saat menginjak kubangan air. Kekurangannya ialah jika sudah basah, sepatu ini lama keringnya.
Nilai = 7/10

Ketahanan
Di luar dugaan, ternyata sepatu ini tidak sekuat yang saya kira. Dimulai dari pendakian pertama di Gunung Rinjani. Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Sepulangnya di rumah, saya baru menyadari kalau jahitan karet di bagian depannya mulai mengelupas. Lama-kelamaan karet di bagian belakangnya juga ikutan ngelupas. Padahal baru saya pakai mendaki 4 kali. Daripada makin parah, terpaksa saya lem pakai Castol dan Alteco. Saya sempat beberapa kali mengirim komplain via Email ke Eiger namun tidak ada tanggapan. Memprihatinkan, mengingat nama besar Eiger.
Nilai = 5/10


Review Sepatu Gunung Eiger W134

Review Sepatu Gunung Eiger W134

Review Sepatu Gunung Eiger W134

Review Sepatu Gunung Eiger W134

Kesimpulan
Eiger masih menjadi primadona di jajaran alat outdoor bikinan lokal. Tak terkecuali sepatu. Sepatu Eiger kini sudah banyak yang waterproof dan bahkan memakai sol Vibram. Jika anda sudah membulatkan tekad ingin beli sepatu gunung merek Eiger, saran saya cuma satu: sebaiknya jangan beli yang seri ini.

Kelebihan:

  • Bobot sepatu cukup ringan
  • Waterproofingnya lumayan
  • Memakai sol Vibram

Kekurangan:
  • Ukurannya sedikit lebih besar dari size biasanya, jadi perlu dicoba langsung biar gak salah ukuran
  • Lem di bagian karetnya mudah mengelupas
  • Lama keringnya