Langsung ke konten utama

Pelajaran Dari Gunung Semeru

Pelajaran Dari Semeru
Suasana di Ranu Kumbolo berasa seperti pasar. Foto diambil dari sini.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari postingan saya sebelumnya yang berjudul Nyaris Hypothermia di Semeru. Buat yang belum baca, silahkan dibaca dulu supaya ngerti ceritanya. Banyak sekali pelajaran dari pendakian saya ke Semeru waktu itu. Mungkin ada beberapa poin di bawah ini yang anda tidak sependapat dengan saya, atau bisa juga anda setuju. Terlepas dari itu, ini merupakan catatan pribadi saja berdasarkan pengalaman saya sendiri. Pelajaran tersebut diantaranya.


1. Rombongan pendakian yang terlalu banyak malah bikin repot dan enggak asyik
Peserta yang terlalu banyak susah ngaturnya. Makin banyak kepala, makin susah pula koordinasinya. Menurut saya, rombongan mendaki tak perlu lebih dari 10 orang. Idealnya antara 4 sampai 8 orang. Saya pernah mendaki bersama 2 atau 3 orang dan menurut saya masih kurang ramai. Minimal 4 orang baru pas. Terlalu ramai juga enggak asyik karena menikmati keindahan alam yang sesungguhnya perlu suasana yang damai dan tenang. Kurang syahdu kalau banyak orang.


2. Hindari mendaki saat ada event besar
Apesnya, pas pendakian Semeru waktu itu berbarengan dengan Jambore Nasional Avtech dan liputan Jejak Petualang oleh Riyani Djangkaru dengan bintang tamunya Herman Lantang, sahabat dari almarhum Soe Hok Gie. Mereka hendak meliput upacara hari pahlawan sekaligus mengenang sosok Gie. Pendaki pun membludak gak karuan mulai dari pos pendakian Ranupani. Macet di sepanjang jalur pendakian sudah tak bisa dihindari lagi. Tenda-tenda di Ranu Kumbolo berasa seperti pasar. Jambore Nasional waktu itu mendapat sorotan dari banyak media karena melanggar aturan yang dikeluarkan oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengenai pembatasan jumlah pendaki. Dari hasil informasi yang saya dapat jumlah pendaki waktu itu mencapai total lebih dari 1700 orang. Untuk mencegah hal seperti itu, cari info dulu apakah di tanggal pendakian ada event atau tidak. Kalau ada, sebaiknya ditunda dulu. 


3. Jika masih pemula, jangan terburu-buru ke gunung yang berat tanpa didampingi pendaki berpengalaman
Jika baru pertama kali naik gunung, ada baiknya mencoba ke gunung yang tidak terlalu tinggi. Kalau di Jawa Timur ada Gunung Penanggungan atau Gunung Lemongan. Gunung ini dikenal ramah bagi pendaki pemula. Jangan langsung ke gunung kelas berat. Hal ini untuk melatih dan membiasakan diri terlebih dahulu. Gunung kelas berat memiliki track yang cukup panjang. Selain itu suhunya juga lebih dingin daripada di gunung yang tidak seberapa tinggi. Maka dari itu, apabila anda tergolong pendaki pemula dan bertekad untuk mendaki ke gunung kelas berat, pastikan anda di dampingi oleh orang yang sudah berpengalaman. Jangan lupa untuk latihan fisik buat persiapan biar gak kaget dengan medan yang bakal dilalui. Beberapa kesalahan lainnya yang sering dilakukan pendaki pemula bisa anda baca disini.


4. Peralatan mendaki itu penting!
Awal mendaki gunung saya tidak memiliki satupun alat hiking. Peralatan dan pakaian yang saya bawa tidak memenuhi standar. Mulai dari tas, sepatu, hingga jaket, semuanya serba apa adanya. Kadang pinjam ke teman. Itupun kalau dapat. Kalau gak ya apa boleh buat. Dari situlah saya tahu suka-dukanya pendaki pemula ber-budget minim. Saya tahu rasanya mendaki pakai sandal jepit, sandal gunung, sepatu sneakers, hingga sepatu kets buat main tennis. Saya tahu rasanya pakai tas laptop/tas sekolah, tas ransel biasa, hingga carrier buatan lokal yang memprihatinkan kualitasnya. Semua sudah pernah saya coba karena saya juga termasuk pendaki ber-budget minim. Justru karena memulai dari nol inilah, saya paham akan pentingnya peralatan mendaki yang sesuai standar. Apa sajakah standar peralatan mendaki gunung itu? Bagaimana cara memilih peralatan mendaki yang bagus? simak artikel berikut ini.


Pelajaran Dari Semeru
Contoh variasi makanan saat di gunung. Cobek / ulekan-nya gak usah dibawa, ini cuma ilustrasi saja.



5. Menu logistik harus bervariasi
Karena masih minim jam terbang, menu makanan utama ketika itu cuma mie instan. Hal ini banyak dialami oleh pendaki pemula. Sebenarnya bisa dimaklumi karena mie instan ini cukup praktis cara membuatnya, sangat mudah di dapat, serta harganya-pun murah. Akan tetapi, mengonsumsi mie instan saja tak bakalan cukup menambah energi. Mendaki gunung membutuhkan fisik yang prima oleh karena itu asupan nutrisi perlu diperhatikan. Menu utama favorit saya diantaranya telur ayam atau telur asin (jangan lupa ditaruh di egg holder supaya tidak pecah), sarden kalengan, kornet atau sosis sapi, chicken nugget, dan bakso ayam. Menu ini bisa dicampur dengan mie instan atau spageti. Saya tidak suka membawa nasi karena pembuatannya memakan waktu lama dan butuh kesabaran ekstra. Sayur-sayuran bisa jadi pelengkap namun tidak tahan lama karena cepat busuk. Saya menghindari makanan pedas karena rawan bikin perut mulas. Untuk makanan ringan atau cemilan saya biasa bawa energy bar rasa cokelat, kacang-kacangan, crackers, roti gandum, roti tawar dan sebagainya. Roti tawar ini bisa dibikin roti bakar dengan cara memanaskannya pakai mentega. Sedangkan untuk minuman saya biasa bawa kopi sachet, cokelat seduh, teh tarik, dan nata de coco. Menu ini bisa dikembangkan sendiri sesuai selera. Yang jelas, menu logistik haruslah bervariasi biar kebutuhan gizi tercukupi, terutama karbohidrat. Kalau menunya bervariasi dijamin gak bakalan bosan.