Langsung ke konten utama

Tanya Jawab Seputar Pendakian Gunung

Tanya Jawab Seputar Hiking dan Pendakian Gunung di Indonesia
Debut pertama saya mendaki gunung di Penanggungan bulan Juli 2012.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang sering diajukan orang ke saya. Topiknya ialah tentang pendakian gunung di Indonesia hingga berbagai permasalahannya. Perlu dicatat bahwa ini adalah pendapat pribadi saja menurut pengalaman saya.


Sejak kapan mulai naik gunung?
Waktu itu sekitar bulan Juli 2012. Bermula dari ajakan teman-teman. Pada awalnya sempat ragu juga mengingat persiapannya yang mepet. Ternyata malah jadi ketagihan naik gunung hingga sekarang. Pada dasarnya saya memang suka berwisata alam karena sejak kecil tinggal di kota besar yang mana pemandangan alam nan asri merupakan suatu hal yang sangat langka dijumpai dalam kehidupan saya sehari-hari. Maka dari itu, sesekali dan bahkan kalau bisa sesering mungkin, saya harus berwisata alam untuk refreshing.


Gunung mana yang pertama kali di kunjungi?
Gunung Penanggungan di Jawa Timur. Gunung ini populer di kalangan pendaki pemula karena tidak seberapa tinggi.


Mengapa hobi mendaki gunung? Apa menariknya?
Yang namanya hobi jika ditanya alasan mengapa begitu menyukainya pasti bakalan susah dijawab. Terlebih lagi bila harus menjelaskannya kepada orang yang tidak memiliki hobi yang sama dengan kita karena pertanyaan ini begitu subjektif. Bagi yang ingin tahu alasannya simak artikel berikut ini.


Berapa bulan sekali biasanya pergi mendaki gunung?
Tidak tentu, karena harus menyesuaikan jadwal. Baik jadwal kesibukan saya maupun rekan-rekan saya. Biasanya jika sudah memasuki musim kemarau, barulah getol-getolnya saya naik gunung. Kalau musim hujan saya tidak begitu suka naik gunung. Alasannya selain karena merepotkan dan risikonya yang tinggi, view yang didapat-pun tidak sebagus di musim kemarau karena seringkali terhalang kabut.


Mengapa lebih suka mendaki di hari-hari biasa daripada di akhir pekan atau hari libur (tanggal merah)?
Sebenarnya gak cuma pas mendaki aja. Tiap berkunjung ke tempat wisata ya sebisa mungkin saya usahakan pas hari biasa. Karena sepi dan tidak begitu banyak pengunjungnya sehingga bisa menghayati. Pastinya juga lebih syahdu mendayu-dayu.


Biasanya pergi mendaki dengan berapa orang?
Seringkali 4 - 5 orang. Terkadang juga 3 orang. Yang jelas lebih dari 2 orang dan saya kurang suka jika terlalu banyak orang. Maksimal 8 orang lah.


Pernah kepikiran untuk mendaki sendirian?
Belum pernah kepikiran. Boro-boro ngebayangin gimana repotnya nanti. Siapa yang bakal ngefotoin? Siapa yang ngebantuin ndiriin tenda dan masak-masak? Belum lagi jika tidak ada partner buat diajak ngobrol.


Naik transportasi apa ke basecamp-nya?
Kalau masih dalam provinsi dan tidak terlalu jauh biasanya naik motor sendirian karena saya pakai motor bebek dan bawa tas carrier, jadi agak susah jika dipakai berboncengan. Kalau pakai motor matic masih bisa dipakai boncengan asalkan carriernya ditaruh depan. Kalau sudah di luar provinsi ya naik transportasi umum. Bisa naik bis atau kerata api. Kalau saya lebih suka naik bis malam sewaktu berangkatnya. Kalau ke luar pulau ya naik pesawat. Ingat, kalau naik pesawat sebaiknya dari jauh-jauh hari sudah beli tiketnya supaya hemat.


Ada gunung favorit enggak? yang sering dikunjungi?
Enggak ada. Gunung kesukaan saya ya pokoknya yang banyak sumber air-nya karena gak bikin repot, apalagi jika mendaki di tengah musim kemarau saat panas-panasnya. Saya orangnya kalau sudah pernah ke suatu gunung bakal pikir-pikir kalau mau kembali kesana kecuali kalau lewat jalur yang berbeda mungkin masih oke lah. Kalau lewat jalur yang sama mah ogah. Masih banyak gunung lain yang belum pernah di kunjungi.


Gunung mana yang paling berkesan salama ini?
Susah kalau ditanya gunung mana yang paling berkesan karena setiap pendakian punya cerita tersendiri. Entah itu pemandangannya atau partner mendaki-nya. Kalau menurut saya sih, sewaktu ke Rinjani.

Tanya Jawab Seputar Hiking dan Pendakian Gunung di Indonesia
Saya mengenakan jaket merah, lagi mancing bersama bule di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani, November 2013.


Persiapan apa saja yang biasa dilakukan sebelum naik gunung?
Sudah pernah saya bahas di artikel berikut persiapan sebelum mendaki gunung. Silahkan dibaca sendiri ya.


Bagaimana tanggapan orang tua?
Sejak awal, saya selalu minta izin jika pergi mendaki gunung. Tanggapan orang tua boleh-boleh saja. Saya selalu menjelaskan di gunung mana beserta dengan transportasi dan perkiraan lamanya waktu pendakian. Jika pendakian sudah selesai dan hendak mau pulang, saya selalu menelepon orang tua untuk mengabarkan bahwa kondisi saya baik-baik saja.


Perlengkapan mendaki gunung apa yang dulu pertama kali di beli?
Saya melengkapi koleksi peralatan hiking dari nol. Mulai dari yang murah dengan kualitas ala kadarnya sampai akhirnya yang paling cocok bagi saya. Dulu prioritas saya yang pertama adalah membeli tas carrier. Carrier pertama yang saya beli ialah produk bikinan lokal, Avtech Outsider 80. Terus setelah itu, saya beli sleeping bag, jaket, sepatu, dan seterusnya.


Merk peralatan outdoor favorit?
Enggak ada. Saya bukan pendaki yang gila merk dan harus mematok merk tertentu. Kalau sudah nemuin item yang nyaman dan pas ya bakalan saya pakai terus. Kecuali jika rusak barulah saya beli gantinya. Tas saya Deuter, jaket dan kaos kaki Berghaus, celana Trespass dan Columbia, sepatu Merrell, sleeping bag dan gaiter Eiger, headlamp Black Diamond, dan masih banyak yang lainnya. Daftar lengkap perlengkapan mendaki saya bisa dilihat disini.


Pernah melihat atau menjumpai hal-hal yang berbau mistis selama mendaki gunung?
Tidak pernah. Seumur-umur belum pernah melihat yang begituanSaya orangnya gak seberapa religius dan cenderung skeptis soal hal-hal yang berbau mistis. Bukan karena enggak percaya, tapi emang selama ini saya belum pernah menjumpainya secara langsung. Berpikir ilmiah aja lah. Setiap hal pasti ada penjelasan dan logikanya. Nah, jika hal itu belum pernah saya jumpai lalu gimana mau neranginnya?. Kalau cerita dari teman sesama pendaki sih banyak. Intinya selama hal itu tidak mengganggu kita ya cuek aja. Sejujurnya, saya lebih takut jika di tengah hutan berjumpa dengan pembunuh sadis seperti psikopat di film-film horror daripada ketemu setan.


Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering saya jumpai. Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan kasih komentar di bawah.