Langsung ke konten utama

Tips Memilih Jaket Gunung Serta Penjelasan dan Macam-macamnya

Tips Memilih Jaket Gunung Serta Penjelasan dan Macam-macamnya

Pada postingan sebelumnya telah saya bahas mengenai tips memilih baselayermaka kali ini akan saya ulas tentang tips memilih jaket gunung beserta pengenalan dan penjelasannya. Karena jaket gunung ada banyak sekali macamnya, maka lingkup bahasan akan saya khususkan hanya tentang jaket yang cocok untuk dipakai mendaki di gunung-gunung Indonesia yang beriklim tropis dan tidak bersalju. Jaket gunung sendiri terdiri dari dua macam, yaitu midlayer dan outer layer. Bersama dengan baselayer, ketiga lapisan ini disebut sebagai layering system. Lihat ilustrasinya di bawah. Penggunaan layering system perlu diperhatikan agar petualangan di alam bebas terasa nyaman dan menyenangkan.

Hiking merupakan aktivitas olahraga outdoor yang membutuhkan tenaga ekstra karena tubuh kita senantiasa bergerak. Untuk itu perlu diingat bahwa jaket gunung yang baik haruslah memiliki sifat breathable agar kulit tetap dapat bernafas dan keringat terevaporasi keluar dari serat kain. Bahan yang tidak breathable akan membuat kita gerah saat dipakai karena tidak adanya pori-pori yang memungkinkan kulit kita untuk bernafas. Mirip seperti di dalam sauna. Tubuh akan jadi semakin basah karena keringat tidak bisa terevaporasi keluar. 

Sangat tidak disarankan membawa jas hujan plastik atau ponco untuk mendaki gunung karena tidak breathable. 

Ketika malam, temperatur akan menurun drastis sehingga diperlukan lapisan tambahan. Belum lagi angin dan hujan yang seringkali datang tiba-tiba di tengah pendakian. Tentunya hal itu harus diantisipasi oleh seorang pendaki. Jika bisa diantisipasi, rintangan alam apapun tidak akan mengganggu jalannya pendakian. Seperti yang sudah diutarakan di atas, rintangan alam itu antara lain:
  1. Suhu: Suhu atau temperatur adalah rintangan alam pertama yang kita jumpai apabila hendak mendaki gunung. Terutama pada malam hinggi pagi hari. Bukan rahasia umum lagi jika semakin tinggi ketinggian suatu tempat, maka akan semakin dingin pula suhunya. Pada umumnya di daerah tropis seperti Indonesia, suhu malam hari di musim kemarau akan lebih rendah daripada di musim hujan. Bahkan saya sendiri pernah mengalami sampai -4° Celsius ketika di Gunung Argopuro. Bagaimanapun juga, baik di musim kemarau maupun musim hujan di gunung tetaplah dingin. Maka dari itu, jangan sekali-kali meremehkan suhu di gunung meskipun tidak seberapa tinggi. Bersiap-siaplah selalu untuk kondisi terburuk. 
  2. Angin: Angin merupakan rintangan alam yang paling sering dijumpai ketika mendaki gunung. Semakin tinggi ketinggian biasanya angin bertiup semakin kencang. Angin juga tidak bisa diprediksi kapan akan muncul. Baik di musim kemarau ataupun musim hujan, angin tetap menjadi momok menakutkan ketika melakukan pendakian. Pasalnya, angin dapat menyebabkan efek wind chill. Yaitu efek dimana tubuh kita merasakan suhu yang lebih rendah daripada temperatur sebenarnya karena permukaan kulit kita terekspos oleh aliran udara. Oleh sebab itu, penting untuk memilih jaket yang mampu menahan angin. Kemampuan jaket untuk menahan angin disebut dengan windproof.
  3. Hujan: Rintangan alam yang satu ini dikenal sangat ganas. Apalagi jika dipadukan dengan kabut tebal, temperatur rendah, dan kecepatan angin yang tinggi. Lengkap sudah amukan alam. Hujan menjadi musuh bebuyutan pendaki sejak zaman dahulu kala. Jika tubuh dan pakaian basah, pendaki akan cepat kedinginan dan mudah menggigil. Hal ini sangatlah mengganggu dan pastinya bakalan merusak mood kita. Efek yang disebabkan oleh hujan selain berpengaruh pada pendaki itu sendiri, juga mempengaruhi jalur pendakian. Trek menjadi basah dan berlumpur sehingga mudah selip. Arus aliran air hujan mampu menyebabkan tanah longsor yang sangat berbahaya bagi para pendaki. Petir yang menyambar juga tak jarang menyebabkan pohon tumbang. Hujan di daerah pegunungan juga sering datang kapan saja, bahkan pada saat musim kemarau sekalipun. Untuk itu, pendaki harus selalu siap sedia membawa pakaian dan peralatan yang diperlukan jika sekiranya hujan turun tiba-tiba.
Setelah paham mengenai tiga rintangan alam di atas, mari kita bahas terlebih dahulu mengenai midlayer. 

Tips Memilih Jaket Gunung Serta Penjelasan dan Macam-macamnya
Layering system untuk naik gunung. Terdiri dari 3 lapis pakaian yakni baselayer, midlayer, dan outer layer.


  MIDLAYER  

Lapisan ini dipakai setelah baselayer dan sebelum outer layer. Karena pemakaiannya yang berada di tengah inilah makanya disebut midlayer (mid/middle = tengah; layer = lapisan). Istilah lain untuk midlayer antara lain insulating layer atau ada juga yang menyebut belay jacket. Fungsi utama midlayer adalah untuk menahan panas yang diproduksi tubuh agar tidak terbuang keluar. Panas yang dihasilkan dapat tercipta karena aliran suhu dari dalam tubuh tertahan di dalam rongga-rongga udara yang terdapat pada lapisan ini. Jika tanpa midlayer, maka yang terjadi adalah panas yang dihasilkan tubuh akan langsung terbuang ke udara sehingga menyebabkan kita kedinginan. Lalu berapa banyak kah tingkat insulasi pakaian yang diperlukan?

Pengukuran tingkat insulasi yang diperlukan dapat dipelajari melalui sebuah penghitungan matematis yang disebut clothing insulation. Saya tak akan membahas masalah ini karena terlalu panjang. Pada intinya, banyaknya insulasi yang diperlukan berbanding terbalik dengan tingkat aktivitas dan berbanding lurus dengan temperatur lingkungan kita. Semakin kita aktif maka semakin sedikit insulasi yang dibutuhkan. Semakin dingin temperatur lingkungan maka semakin banyak insulasi yang dibutuhkan. 

Secara garis besar, ada tiga jenis bahan midlayer yang biasa digunakan. Antara lain: down alias bulu angsa, high-loft synthetic atau jaket sintetis, dan fleece. Mari kita bahas satu-persatu.


1. Down Jacket 

Down adalah insulator alami yang memiliki perbandingan antara berat dan kehangatan atau warmth-to-weight ratio yang sangat tinggi. Down selalu dilapisi bahan luar yang disebut dengan shell berupa nylon atau polyester sehingga sifatnya tahan angin. Down biasanya terbuat dari bulu bebek atau bulu angsa. Down dengan kualitas premium berasal dari bulu angsa yang telah matang dan dewasa. Semakin banyak down maka akan semakin hangat dan semakin berat pula jaket tersebut. Sayangnya produsen seringkali tidak mencantumkan berapa gram isi down-nya. Untuk itu diperlukan standard pengukuran kualitas sebuah down.

Pengukuran kualitas down
Tingkat insulasi pakaian down dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu banyaknya down secara keseluruhan yang dipergunakan secara kuantitatif dan kualitas dari down itu sendiri. Kualitas down ini dinamakan Fill Power (FP). Fill power adalah angka yang menunjukkan berapa banyak satu inci kubik (inc3) dari sebuah down dapat mengisi cawan pengamatan. Fill power untuk olahraga outdoor biasanya memiliki rentang antara 450 hingga 900. Semakin tinggi fill power-nya maka kualitas down tersebut akan semakin baik. Simak gambaran fill power di bawah ini.
Sampel fill power
Contoh di atas adalah sampel fill power pada berat yang sama. Dari kiri ke kanan: 450, 600, 750, 850, 900. 

Kelebihan dan kekurangan down:
(+) Memiliki warmth-to-weight ratio yang paling tinggi
(+) Bobotnya sangat ringan dan mudah dikompresi
(+) Tahan angin atau windproof
(+) Sangat breathable
(+) Terkesan eksklusif saat dikenakan
(-) Down sangat rentan terkena air. Jika basah, kemampuan down sebagai insulator tubuh akan menurun drastis dan menjadi tidak berguna
(-) Down butuh perawatan ekstra agar dapat digunakan dalam jangka waktu lama dan supaya performanya tetap terjaga
(-) Down relatif lebih mahal harganya jika dibandingkan dengan bahan midlayer lainnya
(-) Beberapa orang alergi terhadap bulu, tak terkecuali pada pakaian berbahan down

Kesimpulan
Down sangat cocok digunakan pada kondisi cuaca kering di daerah gunung yang sangat dingin. Biasanya gunung dengan ketinggian lebih dari 3000 mdpl. Sebaiknya sebisa mungkin hindari penggunaan down pada musim hujan karena rawan terkena air. Namun jika ada budget berlebih down adalah pilihan yang tepat. Sudah banyak produk down keluaran merek outdoor ternama yang sudah dilapisi di-treatment dengan bahan penolak air atau water-repellent sehingga mampu menahan air intensitas ringan. Meski begitu, jagalah kondisi down agar selalu kering karena jika terkena air apalagi hingga basah kuyup, down akan menjadi tidak berguna.

Contoh jaket midlayer berbahan down
Contoh jaket midlayer berbahan down. Dari kiri ke kanan: Montane Anti-Freeze, Marmot Mountain Down Hoodie, dan Patagonia Ultralight Down Vest.


2. Synthetic High-loft Jacket 

Yang dimaksud dengan jaket midlayer sintetis adalah jaket yang dibuat dari bahan serat fiber dengan kualitas tinggi yang disusun berongga-rongga. Cara kerja dan fungsi rongga ini sama seperti pada jaket down, yaitu untuk mempertahankan panas tubuh supaya tidak terbuang keluar. Jaket jenis ini pada umumnya telah di treatment water-repellent sehingga lebih tahan terkena air. Oleh karena itu, jaket sintetis ini dibuat menyerupai fungsi layaknya down dengan tambahan fitur water repellent sehingga jaket ini lebih aman jika dikenakan di daerah dengan curah hujan tinggi seperti di Indonesia. Di antara tiga bahan yang biasa dipakai sebagai midlayer, jaket berjenis sintetis ini adalah favorit saya karena sifatnya yang serbaguna dan multifungsiProdusen bahan synthetic high-loft yang terkenal antara lain PrimaloftClimashield, Hollofil, ThermaxThermosoft, dan Thermawrap. Masing-masing produsen tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Primaloft Gold atau yang dulunya bernama Primaloft One adalah seri paling high-end dari Primaloft. Selain itu beberapa brand outdoor ternama juga memiliki teknologi insulasi buatan mereka sendiri. Seperti contohnya The North Face Thermoball dan Berghaus HydroLoft.

Kelebihan dan kekurangan sintetis:
(+) Memiliki warmth-to-weight ratio yang baik
(+) Lebih tahan air jika dibandingkan dengan down
(+) Bobotnya ringan
(+) Tahan angin atau windproof 
(+) Breathable
(+) Lebih tahan lama jika dibandingkan dengan down
(+) Harganya biasanya lebih murah dari down
(-) Kemampuan water repellency akan berkurang seiring dengan usia jaket
(-) Tidak ada standar baku untuk menilai kualitas bahan sintetis
(-) Dibutuhkan perawatan khusus agar lapisan water repellency-nya tetap terjaga dan bahan sintetis di dalam jaket tidak cepat rusak

Kesimpulan
Jaket serbaguna di segala medan yang ringan, breathable, dan windproof. Memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap air jika dibandingkan dengan down. Harganya-pun biasanya lebih murah daripada yang berbahan down.

Contoh jaket midlayer berbahan sintetis
Contoh jaket midlayer berbahan sintetis. Dari kiri ke kanan: The North Face Thermoball Hybrid, Patagonia Nano Puff, dan Mountain Hardwear Ghost Whisperer.


3. Fleece Jacket 

Fleece di Indonesia sendiri lebih dikenal dengan istilah polar lantaran awal mulanya diproduksi oleh pabrik tekstil asal Amerika Serikat bernama Polartec pada tahun 1979. Pabrik tersebut dulunya bernama Malden Mills. Untuk lebih mengenal Polartec, silahkan baca artikel saya disini. Label fleece terkemuka lainnya ialah Thinsulate dan Thermolite. Thinsulate diproduksi oleh 3M Company, sebuah perusahaan manufaktur terkemuka. Sedangkan Thermolite diproduksi oleh Invista, perusahaan manufaktur serat fiber terbesar di dunia. Fleece sebagian besar berasal dari bahan campuran polyester seperti polyethylene terephthalate (PET), nylon, lycra, dan berbagai jenis bahan sintetis lainnya. Selain untuk jaket outdoor, juga banyak dipakai untuk perlengkapan rumah tangga semisal selimut dan sprei. Fleece juga ramah lingkungan karena dapat diproduksi dari limbah daur ulang, contohnya plastik dan botol bekas. Ada banyak sekali jenis dari fleece ini. Fleece buatan Polartec sendiri yang paling populer ialah Polartec Classic. Tersedia dalam berbagai ketebalan. Mulai dari 100, 200, dan 300. Semakin tebal bahan fleece maka akan semakin hangat. Fleece keluaran Polartec yang paling mutakhir ialah Polartec Thermal Pro.

Kelebihan dan kekurangan fleece:
(+) Tetap bekerja sebagai insulator tubuh meski dalam kondisi basah
(+) Lebih cepat kering
(+) Breathability yang cukup baik
(+) Harganya relatif murah
(+) Mudah perawatannya karena tidak membutuhkan perhatian khusus
(-) Kurang cocok digunakan pada daerah yang bersuhu minus
(-) Memiliki warmth-to-weight ratio yang lebih rendah jika dibandingkan dengan down dan sintetis sehingga umumnya lebih berat
(-) Pada dasarnya tidak terlalu windproof. Namun pada beberapa seri tertentu telah ditambahkan lapisan berupa membran untuk menahan angin, semisal pada seri Polartec WindblocPolartec Wind Pro dan Columbia Omni-Wind Block
(-) Bagian serat kain terluarnya mudah mengelupas (istilah asingnya ialah pilling, klik disini untuk melihat contohnya)

Kesimpulan
Fleece cocok dipakai sebagai midlayer dalam kondisi apapun karena penggunaannya bisa disesuaikan dengan ketebalan bahan. Fleece tipis seperti Polartec Classic 100 atau istilah lainnya microfleece sangat cocok untuk dipakai beraktivitas di suhu dingin. Seperti misalnya ketika trekking di malam hari. Fleece juga lebih aman dipakai ketika musim hujan karena sifatnya yang mudah kering dan tetap memberi insulasi tubuh meskipun dalam kondisi basah.

Contoh jaket midlayer berbahan fleece
Contoh jaket midlayer berbahan fleece. Dari kiri ke kanan: Arc'teryx Fortrez, Helly Hansen Langley, Berghaus Prism, dan Columbia Steens Mountain.


  OUTER LAYER  

Outer layer biasa disebut juga sebagai outer shell. Outer layer ini dikenakan pada lapis terluar dan berfungsi menolak berbagai elemen dari luar supaya tidak masuk ke dalam. Jadi, jaket outer layer ini berfungsi sebagai proteksi dari air hujan dan angin supaya tubuh kita tidak basah ataupun menggigil kedinginan. Kemampuan menahan air ini disebut waterproof. Penggunaan outer layer dapat digunakan secara terpisah maupun dirangkap dengan midlayer. Ketika hujan turun, outer layer dapat langsung digunakan setelah baselayer. Jangan memakai outer layer bersamaan dengan midlayer ketika trekking di saat hujan karena akan membuat kita makin gerah. Penggunaan midlayer bersamaan dengan outer layer berfungsi untuk menambah kehangatan. Umumnya dipakai di malam hari ketika sudah mendirikan tenda dan sebagai pakaian pelengkap tidur. Outer layer juga harus breathable agar kulit tetap bisa bernafas dan tidak menyebabkan penumpukan keringat yang pada akhirnya malah akan menyebabkan kita kedinginan. Pada prinsipnya, setiap jaket yang waterproof pasti juga windproof karena terdapat membran yang mampu mencegah angin supaya tidak masuk ke dalam. Jadi intinya outer layer harus memiliki tiga sifat. Yakni waterproof, windproof, dan breathable.

Sejarah singkat kain waterproof-breathable
Kain waterproof-breathable pertama kali diperkenalkan secara komersil pada tahun 1976 oleh sebuah brand bernama Gore-Tex produksi W. L. Gore Associates asal Amerika Serikat. Teknik yang digunakan ialah dengan memanfaatkan proses laminasi. Lapisan waterproof-breathable ditambahkan pada serat kain yang terbuat dari bahan polyester atau nylon. Lapisan ini terbuat dari polytetrafluoroethylene yang telah di kembangkan atau disingkat ePTFE. Secara mikroskopis, setiap pori-pori lapisan ePTFE  berdiameter lebih kecil 1/20000 dari tetes air sehingga air tidak dapat masuk ke dalam kain namun molekul uap masih dapat tembus keluar melalui pori-pori mikroskopis tersebut. Sehingga dinamakan waterproof-breathable. Ada dua proses dalam pemberian lapisan waterproof-breathable pada membran kain, yaitu melalui laminasi (laminated) dan pelapisan (coating). Laminated, sesuai namanya, ialah pemberian lapisan waterproof-breathable dengan cara menambahkan laminasi membran ePTFE dan merekatkannya diantara lapisan kain terluar (outer fabric) dan lapisan dalam (inner lining). Sedangkan coating ialah dengan cara menyemprotkan polimer polyurethane (PU) pada membran bagian dalam kain. Ada juga yang mengombinasikan antara dua cara diatas. Secara teoretis, metode laminasi lebih awet dan tahan lama sehingga harganya-pun relatif lebih mahal. Kemampuan waterproofing pada suatu jaket bisa menurun karena berbagai sebab. Diantaranya faktor usia atau karena pemakaian yang menyebabkan lapisan PU coating-nya menjadi rontok, retak-retak, ataupun mengelupas. Di bawah ini ialah ilustrasi lapisan-lapisan pada kain waterpoof-breathable.

Struktur kain waterproof-breathable

Susunan pada jaket waterproof-breathable ini ada yang 2 layer, 2,5 layer dan 3 layer. Secara kasat mata sulit untuk mengetahui perbedaannya. Yang pasti, kita hanya dapat mengidentifikasinya melalui spesifikasi produk tersebut. Berikut ini ulasan tentang ketiga jenis tersebut:
  • 2 Layer: Penggunaan 2L biasa dipakai untuk jaket dengan kisaran harga kelas menengah ke bawah. Layer ini biasanya memiliki bobot lebih berat dibandingkan layer lainnya dan harganya pun biasanya lebih murah jika dibandingkan dengan yang 2,5L atau 3L. Pada lapisan 2L ini membran direkatkan secara langsung dengan outer fabric. Imbasnya, pada jaket 2L seringkali diberi tambahan jaring supaya lebih nyaman dikenakan dan untuk menjaga lapisan coating-nya supaya awet.
  • 2,5 Layer: Merupakan jenis yang paling ringan dan yang paling breathable. Biasa digunakan untuk ultralight hiking. Layer jenis ini sangat cocok untuk olahraga outdor dengan tingkat intensitas yang sangat tinggi seperti speed climbing, trail running, marathon running, dan sebagainya. Membran pada layer 2,5L diposisikan menggantung antara outer fabric dan inner lining-nya, tanpa proses perekatan (bonding) seperti halnya pada 2L dan 3L sehingga jahitan serta seam seal-nya dapat diminimalisir. Imbasnya, bobot jaket jadi sangat ringan. 
  • 3 Layer: Pada jenis ini membran direkatkan langsung pada outer fabric dan inner lining-nya sehingga bisa mencegah pengikisan membran akibat terkena gesekan dengan lapisan lainnya. Oleh karena itu, layer jenis ini sangat tahan lama jika dibandingkan dengan layer lainnya dan sudah tentu harganya pun menjadi lebih mahal. Penggunaan 3L ini cenderung untuk olahraga ekstrim di daerah bersalju seperti ski, snowboard, dan ice climbing karena layer ini memiliki ketahanan yang paling baik sehingga awet dan tahan lama.


Gore-Tex sendiri pada umumnya terdapat 3 jenis. Yakni Gore-Tex reguler yang kini diberi label Gore-Tex Performance Shell, Gore-Tex Paclite yang sudah diskontinu dan sekarang diganti dengan Gore-Tex Active, dan Gore-Tex XCR (singkatan dari Extended Climate Range) yang juga sudah diskontinu dan sekarang digantikan Gore-Tex Pro. Gore-Tex Performance Shell ada yang 2 layer dan 3 layer. Gore-Tex Active 2,5 layer, cenderung ringan (ultralight) dengan tingkat breathabilitas yang tinggi. Sedangkan Gore-Tex Pro 3 layer ialah seri yang paling durable sehingga jaket dengan bahan ini termasuk kategori menengah ke atas dan tentu harganya pun lebih mahal. Pada lapisan jaket tersebut juga bisa ditambahkan insulasi guna menambah kehangatan. Jaket ini disebut dengan insulated hardshell. Hingga kini, Gore-Tex masih tetap menjadi primadona meskipun banyak bermunculan brand-brand dengan teknologi dan inovasi baru. Untuk lebih jelasnya lihat ilustrasi di bawah ini.

Pengukuran waterproof
Kemampuan suatu jaket untuk menahan air biasanya diukur dengan menggunakan satuan milimeter. Satuan tersebut menyatakan tinggi air yang dapat ditampung pada permukaan kain berdiameter 1x1 inci pada sebuah tabung. Ini merupakan standar pengukuran yang umum digunakan oleh produsen alat-alat outdoor. Prosedur pengukuran tersebut dinamakan static column test. Semakin tinggi ratingnya maka semakin baik pula kemampuan jaket tersebut dalam menahan air. Namun ada juga beberapa produsen yang menggunakan test tersendiri, baik melalui tim riset mereka atau melalui laboratorium independen. Lihat video ilustrasi di bawah ini untuk lebih jelasnya.


Pengukuran breathability
Seperti halnya pengukuran waterproof, pengukuran breathability ini pun berbeda-beda. Masing-masing produsen dan laboratorium memiliki metodeloginya sendiri sehingga muncul rating yang beragam. Hampir mustahil untuk membandingkannya. Standar yang biasa digunakan yaitu menggunakan moisture vapor transfer atau disingkat MVT. MVT ialah banyaknya uap air yang keluar (diukur dalam gram) melalui proses permeabilitas pada luas permukaan sebesar satu meter kuadrat per-harinya. Satuan MVT ialah gr/m2/hari. Semakin tinggi nilai MVT-nya maka kemampuan breathability akan semakin baik.

Pengukuran windproof
Jaket windproof berdasarkan Cubic Feet per Minute. Disingkat menjadi CFM. Penjelasannya, berapa banyak angin yang dapat masuk ke dalam material kain per menitnya. Diukur dengan satuan volume cubic. 0 CFM mengindikasikan material tersebut mampu menolak angin sepenuhnya. Sebagai contoh, pada jaket tertera 6 CFM. Ini berarti jaket tersebut mampu menahan angin sebesar (100-6) 94%. Produsen bahan windproof yang terkenal ialah Windstopper milik Gore Company, perusahaan yang juga memproduksi Gore-Tex. Untuk lebih mengenal Windstopper, silahkan baca disini.

Hubungan antara waterproof dan windproof dengan breathabilitas
Melalui penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan waterproof dengan windproof ialah berbanding lurus. Semakin waterproof suatu bahan maka akan semakin windproof pula. Sedangkan hubungan waterproof dengan breathabilitas ialah berbanding terbalik. Semakin waterproof suatu bahan, maka akan semakin berkurang breathabilitasnya. Maka dari itu, kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara ketiga variabel di atas. Tidak direkomendasikan mendaki gunung dengan menggunakan bahan waterproof yang absolut karena bahan tersebut pasti tidak breathable. Contohnya jas hujan plastik atau ponco.

Teknologi lainnya selain Gore-Tex
Terkadang tiap brand memiliki penamaan teknologi waterproof breathable-nya sendiri. Beberapa tipe tertentu terutama yang masuk kategori menengah keatas biasanya tetap menggunakan Gore-Tex. Berikut ini contoh teknologi waterproof-breathable yang dipakai oleh beberapa brand outdoor terkemuka:

Contoh jaket waterproof-breathable
Contoh jaket waterproof-breathable. Dari kiri ke kanan: Marmot Precip, Outdoor Research Helium II for woman, The North Face Resolve, dan Patagonia Torrentshell.


Tips Memilih Jaket Gunung
  1. Untuk midlayer pilihlah ukuran yang pas di badan. Ukuran yang pas dan tidak terlalu longgar akan semakin hangat karena fungsi utama midlayer ialah sebagai insulasi untuk penghangat tubuh.
  2. Untuk outer pilihlah yang agak longgar sehingga dapat dipakai rangkap dengan midlayer.
  3. Pilihlah jaket yang berwarna mencolok supaya memudahkan identifikasi. Kita tidak pernah tahu berbagai kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di gunung. Oleh karena itu, warna jaket yang mencolok akan memudahkan tim SAR jika kita tersesat di gunung. Jangan memilih warna kamuflase seperti loreng-loreng yang biasa dipakai tentara karena akan menyulitkan pencarian. 
  4. Pilih jaket outer yang ada penutup kepalanya (kupluk / hoodie) supaya kepala tetap terlindungi dari air hujan. 
  5. Untuk pendakian gunung-gunung di Indonesia, sebaiknya cukup membawa dua buah jaket saja. Satu jaket midlayer dan satu jaket outer layer. Hindari membawa jaket yang berlebihan karena hanya akan menambah bobot barang bawaan. 
  6. Simpan jaket midlayer ke dalam tas kresek agar tetap kering. Untuk outer, taruh pada bagian tas yang mudah dijangkau supaya gampang diambil ketika hujan turun. 
  7. Fitur yang perlu diperhatikan antara lain: jumlah kantong termasuk saku di bagian dalam, tali pengencang pinggang, perekat pergelangan tangan, risleting di ketiak untuk ventilasi udara supaya tidak gerah, dan kantong penyimpanan. 
  8. Cek tape perekat (seam-seal) pada jaket outer yang akan kita beli. Pastikan tidak ada yang mengelupas supaya air tidak merembes masuk melalui sela-sela jahitan. 
  9. Selalu lakukan uji coba jaket waterproof, terutama jika baru beli. Cobalah memakainya di luar rumah ketika hujan atau bisa juga berdiri di bawah pancuran air selama beberapa menit untuk memastikan bahwa jaket benar-benar waterproof dan siap dibawa berpetualang.

Tips memilih jaket gunung
Tali pengencang pinggang dan risleting ketiak
Tips memilih jaket gunung
Perekat pada pergelangan tangan
Tips memilih jaket gunung
Saku dalam biasanya untuk menyimpan gadget
Tips memilih jaket gunung
Kantong penyimpanan
Tips memilih jaket gunung
Seam sealing tape di bagian dalam jaket waterproof-breathable

Itulah penjelasan dan macam-macam jaket gunung beserta tips memilihnya. Jangan sampai salah pilih karena fungsi jaket gunung sangat vital yakni sebagai tameng dari segala macam cuaca. Tak cukup hanya dengan memilih jaket yang tepat saja, itu baru separuh jalan. Selanjutnya diperlukan perawatan agar performanya tetap dalam kondisi prima. Untuk tips merawat dan mencuci jaket gunung bisa anda baca disini.